Hawkwap - Financial Information System (FIS) memang belum setenar singkatan "selebriti" lain, seperti KPI atau Capex. FIS merupakan pengembangan dari Executive Information System (EIS) di lingkungan Kementerian BUMN. EIS dikembangkan sebagai speedometer yang digunakan oleh para pejabat Kementerian BUMN untuk memberi dukungan pengambilan kebijakan.
Dalam berkendara, speedometer membantu pengemudi untuk mengetahui apakah kecepatan yang ditempuh sudah cukup untuk sampai pada waktunya atau tidak. Tak berbeda jauh dari pengemudi, Kementerian BUMN selaku pemilik perusahaan BUMN juga membutuhkan speedometer untuk mengetahui apakah BUMN sudah bergerak cukup cepat sesuai yang diinginkan atau belum. Karena "mobil" yang dikendarai Kementerian BUMN memiliki target kecepatan khusus dengan jarak terus berubah.
Oleh karena itu, Kementerian BUMN merumuskan FIS sebagai instrument pendukungnya. “Setelah satu tahun belajar EIS, kami merumuskan beberapa penyesuaian mendasar. Pada awal 2012, EIS resmi diubah menjadi FIS. Tidak banyak yang sadar karena alamat URL-nya pun sama dengan sebelumnya. Bahkan seluruh infrastruktur FIS masih menggunakan EIS,” ujar Plt. Asdep Riset dan Informasi Kementerian BUMN, Fadjar Judisiawan.
Sebelumnya, EIS dirancang untuk memudahkan penghitungan data yang dikelompokkan (agregasi), baik secara keseluruhan, berdasarkan unit eselon I maupun sektor usaha. Dengan demikian, pekerjaan analisa manual yang menyita waktu akan terselesaikan lebih cepat dan akurat.
Untuk memulainya, Kementerian BUMN menetapkan sasaran operasional. Pada 2013 mendatang, Kementerian menargetkan agregasi data seluruh BUMN dapat dilakukan di detail pertama dan kedua masing-masing kode akun. Dengan demikian, Kementerian BUMN memiliki acuan data tunggal yang tersimpan dalam sistem milik organisasi, bukan acuan ganda yang tersebar di berbagai unit.
Pada 2014 Kementerian BUMN fokus melengkapi laporan keuangan triwulan dan semester masing-masing BUMN. Jika Kementerian sukses pada dua laporan keuangan ini, maka FIS akan memberikan kontribusi yang signifikan dalam perhitungan prognosa akhir tahun.
Setelah mengetahui arah melangkah, Kementerian BUMN memetakan tahapan menjadi dua, menyelesaikan panduan pemetaan akun dan meningkatkan aliran data dari BUMN. Dari pemetaan akun, agar agregasi dapat dilakukan, Kementerian BUMN melakukan pemetaan awal terhadap data neraca, laporan laba rugi, dan arus kas perusahaan dalam periode satu dekade (2002-2011).
Data-data yang dimasukkan dalam FIS ini akan ditampilkan pula dengan nilai penyajian kembali, sehingga memiliki kemampuan komparasi, khususnya jika terjadi perbedaan dengan nilai laporan keuangan audit tahun sebelumnya.
Sementara itu, untuk menangani tantangan di tingkat aliran data BUMN, Kementerian BUMN melakukan dua pendekatan. Pertama memudahkan admin data di BUMN untuk mengisi FIS. Kriteria mudah adalah dapat dilakukan pegawai dengan kemampuan komputer tingkat dasar, waktu pengisian tak sampai delapan jam, dan dapat dilakukan dengan koneksi internet pas-pasan. Pendekatan selanjutnya adalah mempromosikan kemudahan pengisian FIS kepada BUMN.
“Pada bulan Mei yang lalu, tim kecil mulai melakukan uji coba. Laporan keuangan salah satu BUMN dalam bentuk pdf menjadi salah satu sampel. Dengan menggunakan converter, tim mengubah laporan keuangan menjadi format excel. Selanjutnya angka-angka dalam laporan keuangan tersebut dipindahkan ke dalam template yang didownload dari FIS. Waktu yang digunakan pun cukup singkat, hanya 2 jam. Template yang diupload juga berukuran kecil, sehingga bisa dilakukan di berbagai daerah dengan koneksi internet pas-pasan,” papar Fadjar.
Judul : BUMN: Masuki Era Integrasi dan Agregasi Data (Berita Nasional)
Deskripsi : Hawkwap - Financial Information System (FIS) memang belum setenar singkatan "selebriti" lain, seperti KPI atau Capex. FIS merupak...